DANTON PERTAMA DAN TERAKHIR
Namaku Hanif aku di
sekolah mengikuti ekskul Paskibra. Hari dimana saat tim Paskibraku akan berlaga
di Surabaya mengikuti lomba Paskibra tingkat Nasional, aku dan teman-teman
mempersiapkan diri dengan sebaik-sebaiknya. Pada awalnya aku adalah pasukan
dalam tim, namun setelah beberapa hari latihan Izam sebagai danton tim
mengatakan bahwa dia tidak bisa ikut dalam lomba di Surabaya,” Temen-temen,aku
nggak bisa ikut dalam lomba ini,soalnya aku juga akan tournament Angggar di
Banyuwangi”kata Izam kepada kami. Mendengar perkataan itu kami kaget dan
bingung, “ Lho,kenapa baru sekarang bilang padahal kan ini sudah dekat ke
lombanya!! Terus siapa yang mau menggantikan kamu zam??”. Melihat masalah yang
kami hadapi, pembinaku langsung mengambil keputusan bahwa ada seleksi danton
untuk menggantikan Izam. “ OK,untuk profesi danton langsung baris mengambil
alih sendiri kita akan mulai seleksinya.” Aku dan teman-temanku yang berprofesi
danton lainnya langsung baris. Pada awalnya aku tidak yakin dalam seleksi ini
dan aku tidak berharap untuk menggantikan Izam.
Setelah selesai seleksi
Arum,Izam, dan pembinaku berunding untuk menentukan siapa yang pantas menjadi
pengganti Izam. Waktunya pengumuman “ Semoga yang telah kami pilih untuk
menjadi pengganti Izam bisa menampilkan yang terbaik,dan penggantinya
adalah……HANIF.” Mendengar keputusan itu aku kaget dan merasa sedikit kecewa
dengan keputusan itu karena dengan melihat kekuranganku aku belum punya
pengalaman menjadi danton sama sekali sedangkan Izam punya banyak pengalaman,
tetapi jika itu yang terbaik maka aku akan beruasaha untuk jadi yang terbaik.
“ Nif, kamu sudah dipercayai oleh teman-temanmu, jadi kamu harus bisa membuktikan bahwa kamu adalah yang terbaik. Kamu sebenarnya mempunyai banyak potensi tapi kamu hanya belum pernah ada pengalaman, kan kalau Izam sudah banyak pengalaman. Tapi kamu bisa jadi lebih baik dari Izam, maka dari itu kamu harus lebih berusaha semaksimal mungkin.” Kata pembinaku.
“ Siap Iya. “ jawabku dengan penuh kesiapan.
“ Setelah ini kamu bisa minta tolong kepada Izam buat ngajarin kamu menjadi danton yang baik dan benar.”
“ Siap iya bang.”
“ Nif, kamu sudah dipercayai oleh teman-temanmu, jadi kamu harus bisa membuktikan bahwa kamu adalah yang terbaik. Kamu sebenarnya mempunyai banyak potensi tapi kamu hanya belum pernah ada pengalaman, kan kalau Izam sudah banyak pengalaman. Tapi kamu bisa jadi lebih baik dari Izam, maka dari itu kamu harus lebih berusaha semaksimal mungkin.” Kata pembinaku.
“ Siap Iya. “ jawabku dengan penuh kesiapan.
“ Setelah ini kamu bisa minta tolong kepada Izam buat ngajarin kamu menjadi danton yang baik dan benar.”
“ Siap iya bang.”
Dalam waktu dua minggu
kami berlatih dengan sungguh-sungguh. Kami latihan dari siang sampai sore. Awal
latihan kami berlatih PBB untuk lebih memantabkan PBB kami. Setelah itu,
latihan selanjutnya kami membentuk Formasi Kreasi dan Yel-Yel. Disaat aku
member aba-aba tiba-tiba suaraku habis “Siap Grakk..” dengan suara yang
melengking dan habis
“ Kenapa dengan suaramu, Nif?”
“ Nggakpapa, mungkin terlalu banyak latihan.”
“ Bener kamu nggakpapa, Nif?”
“ Iya bener aku nggakpapa. Sudah ayo latihan lagi!”
Kami melanjutkan latihan lagi. Sebenarnya di dalam hatiku aku juga khawatir dengan suaraku ini. Padahalkan lomba kurang satu minggu lagi .
Aku pulang dan menceritakan ini kepada orang tuaku.
“ Bu, suaraku habis ini gimana?” tanyaku dengan khawatir.
“ Lha kenapa kok bisa habis?”
“ Aku juga nggak tahu mungkun terlalu banyak latihan.”
“ Makannya kalau latihan suaranya jangan terlalu diforsir. Kalau kamu memang sudah bisa ya nggak usah latihan lagi,nanti pada waktu hari H-nya baru habis-habisan. Lha kalau begini suaramu habis, nanti saat hari H-nya malah suaramu habis total.”
Mendengar perkataan Ibuku seperti itu aku berfikir mauku sih begitu tapi aku agak nggak enak hati kepada temen-temen dan pembinaku.
“ Ya sudah ini Ibu buatkan air jahe,langsung minum selagi masih panas.”
“ Iya makasih,Bu.”
“ Kenapa dengan suaramu, Nif?”
“ Nggakpapa, mungkin terlalu banyak latihan.”
“ Bener kamu nggakpapa, Nif?”
“ Iya bener aku nggakpapa. Sudah ayo latihan lagi!”
Kami melanjutkan latihan lagi. Sebenarnya di dalam hatiku aku juga khawatir dengan suaraku ini. Padahalkan lomba kurang satu minggu lagi .
Aku pulang dan menceritakan ini kepada orang tuaku.
“ Bu, suaraku habis ini gimana?” tanyaku dengan khawatir.
“ Lha kenapa kok bisa habis?”
“ Aku juga nggak tahu mungkun terlalu banyak latihan.”
“ Makannya kalau latihan suaranya jangan terlalu diforsir. Kalau kamu memang sudah bisa ya nggak usah latihan lagi,nanti pada waktu hari H-nya baru habis-habisan. Lha kalau begini suaramu habis, nanti saat hari H-nya malah suaramu habis total.”
Mendengar perkataan Ibuku seperti itu aku berfikir mauku sih begitu tapi aku agak nggak enak hati kepada temen-temen dan pembinaku.
“ Ya sudah ini Ibu buatkan air jahe,langsung minum selagi masih panas.”
“ Iya makasih,Bu.”
Pada hari Jum’at pagi
kami, melakukan gladi bersih, setelah itu kami persiapan untuk berangkat ke
Surabaya naik Kereta Api jam setengah 4 sore. Kami berkumpul di Stasiun Kota
Baru Malang jam 3 sore. Sesampainya di Stasiun Gubeng Surabaya kami dijemput
oleh panitia lomba untuk diantar di penginapan peserta Lomba. Ternyata
penginapan lomba itu adalah asrama untuk sekolah pendidikan kemiliteran yang
ada di Surabaya. Dan disana juga banyak peserta lomba dari luar kota contohnya
dari Sumedang. Setelah kami masuk ke kamar penginapan aku dan teman-teman
lainnya langsung bersih diri dan menuju ke Masjid untuk sholat. Setelah sholat
Aku dan Yunus melihat peserta lomba lainnya sedang latihan.
“ Menurutmu gimana tim itu,Nus?” tanyaku kepada Yunus
“ Tim itu sangat berbeda dengan kita yaa nif, dari PBB nya saja sudah berbeda lebih kelihatan powernya.”
“ Kamu takut Nus?”
“ Nggak lah kan kita harus selalu optimis dan selalu bersemangat.”
“OK, Semangaat…”
“ Menurutmu gimana tim itu,Nus?” tanyaku kepada Yunus
“ Tim itu sangat berbeda dengan kita yaa nif, dari PBB nya saja sudah berbeda lebih kelihatan powernya.”
“ Kamu takut Nus?”
“ Nggak lah kan kita harus selalu optimis dan selalu bersemangat.”
“OK, Semangaat…”
Keesokan harinya aku
dan teman-teman lainnya bangun pagi-pagi sekali. Pagi itu aku merasakn
tenggorokanku tidak enak sekali tapi tidak aku hiraukan. Adzan Shubuh
berkumandang aku dan teman-teman langsung menuju ke masjid untuk sholat shubuh.
Setelah sholat shubuh kami bersih diri. Habis bersih diri Pembinaku
mengumpulkan kami semua untuk melakukan pemanasan dan sedikit PBB. Saat dicoba
untuk memberi aba-aba tiba-tiba suaraku habis. Aku merasa gelisah karena
sebentar lagi sudah waktunya beranklat ke tempat lomba.
“ Kenapa suaramu Nif?” Tanya Pembinaku
“ Itu bang, saya lupa membawa obat tenggorokan jadi kemarin saya belum minum oba.” Jawabku dengan suara yang akan habis total.
“ Obatnya apa namanya?, nanti kutitipkan ke panitianya untuk membelikan obatnya.”
“ Cypro, makasih Bang.”
“ Iya “
“ Kenapa suaramu Nif?” Tanya Pembinaku
“ Itu bang, saya lupa membawa obat tenggorokan jadi kemarin saya belum minum oba.” Jawabku dengan suara yang akan habis total.
“ Obatnya apa namanya?, nanti kutitipkan ke panitianya untuk membelikan obatnya.”
“ Cypro, makasih Bang.”
“ Iya “
Kita berangkat ke
tempat lombanya naik truk tentara. Aku masih memikirkan suaraku ini, kenapa
pada saat mau lomba malah habis padahal kemarin nggakpapa. Sesampainya disana
kami masuk dan langsung menata basecamp. Kami tampil dengan nomer urut agak
akhir. Setelah selesai menata basecamp aku dan 4 orang temanku langsung
mengikuti apel pagi. Tidak disangka peserta lomba lainnya sangatlah berbeda
dengan timku fisiknya lebih tinggi daripada aku dan teman-temanku, tapi kami
tak pantang semangat kami masih selalu optimis. Habis mengikuti apel pagi , ada
seorang panitia yang memberiku obat cypro.
“ Dek ini obat yang dititipkan oleh pembinamu tadi.”
“ O,iya bang makasih.”
Setelah diberi obat,aku langsung meminumnya dengan harapan nanti bisa ada perubahan yang baik dengan suaraku ini. Sambil menunggu giliran teman-temanku bermain music dan juga ada yang bersenda gurau,tapi beda halnya denganku aku duduk dan berdoa agar suaraku tidak habis saat penampilan. Aku jadi teringat tentang perkataan ibuku bahwa suaraku akan habis total jika aku memforsirnya,aku sangat merasa bersalah dengan ibuku karena aku tidak mematuhi perkataan ibuku.
“ Dek ini obat yang dititipkan oleh pembinamu tadi.”
“ O,iya bang makasih.”
Setelah diberi obat,aku langsung meminumnya dengan harapan nanti bisa ada perubahan yang baik dengan suaraku ini. Sambil menunggu giliran teman-temanku bermain music dan juga ada yang bersenda gurau,tapi beda halnya denganku aku duduk dan berdoa agar suaraku tidak habis saat penampilan. Aku jadi teringat tentang perkataan ibuku bahwa suaraku akan habis total jika aku memforsirnya,aku sangat merasa bersalah dengan ibuku karena aku tidak mematuhi perkataan ibuku.
Waktunya pengumuman.
Semua sudah tidak ada harapan lagi karena melihat penampilan kami tadi,kami
sudah pesimis. dan Alhamdulillah SMP Negeri 2 Malang mendapatkan juara Mula 1. Kami
sangat bergembira dan sangat bersyukur kepada Allah SWT. Ini adalah lomba
tingkat nasional pertamaku menjadi danton untuk petama kalinya dan juga
terakhir kalinya karena aku sudah kelas 9. Apapun itu aku sangat bergembira dan
berterimakasih untuk semuanya.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar